Dalam dunia pekerjaan seringkali kita mendengar istilah "multi-tasking". Di era serba cepat sekarang ini, prinsip "waktu adalah uang" semakin menjejali kita, dan baik disadari maupun tidak prinsip itu telah termanifestasi dalam cara berpikir pemilik perusahaan tempat kita bekerja. Untuk efisiensi waktu dan biaya biasanya perusahaan akan berpikir seribu kali untuk menambah sumber daya manusia. Konsekuensinya, seorang karyawan mau tidak mau harus bersifat "multi-tasking", dan itu berarti harus siap mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu.
Ada hal positif yang bisa kita ambil dari tren bekerja seperti ini. Kita dituntut untuk selalu menggali potensi dan belajar lebih banyak lagi setiap harinya. "multi-tasking" membuat kita mempelajari dan memahami lebih banyak skill dan ilmu yang pada akhirnya menambah nilai jual kita sebagai karyawan. Namun bukan berarti "multi-tasking" tidak terlepas dari efek negatif. Sudah pasti jadwal menjadi lebih padat, beban pekerjaan pun semakin berat karena deadline yang kian banyak harus dipenuhi.
Untuk itu, ada beberapa cara yang bias kita terapkan untuk mengurangi efek buruk bekerja secara "multi-tasking" namun dapat tetap mempertahankan predikat sebagai karyawan teladan.
